Mengunjungi Industri Mebel di Tahunan, Jepara Showroom Mebel Terpanjang di Dunia

Seni ukir Jepara mempunyai keunikan tersendiri, yaitu perpaduan antara seni ukir majapahit dengan seni ukir patih Bandar Duwung yang berasal dari Cina. Industri mebel bagi Indonesia merupakan salah satu komoditi ekspor utama selain minyak dan gas bumi. Mebel Jepara, tidak hanya sebatas komoditi tetapi juga merupakan catatan budaya dari peradaban masyarakat.

Laporan: Kesuma Yuda, Jepara

Saat itu, jam menunjukan pukul 10.00 WIB, kami memulai perjalanan menelusuri kerajinan Seni Ukir, Jepara. Sebuah kabupaten kecil di Provinsi Jawa Tengah. Dengan ditemani oleh Sulthon Al Amin dan Nita Irawati Murjani dari Center For International Fouretry Research (CIFOR), dimulailah perjalanan dengan menggunakan kendaraan roda empat.

Aktivitas para pengrajin ukir sudah terlihat saat memasuki jalan Soekarno Hatta, Tahunan yang merupakan showroom Mebel terpanjang di dunia yang berada di kota asal kelahiran pejuang emansipasi wanita, Raden Ajeng Kartini yang lahir pada 21 April tahun 1879.

Di sisi kiri dan kanan, kawasan yang juga merupakan jalan utama kota Jepara yang bersih dari sampah ini berjejer toko-toko mebel. Mulai dari toko yang bentuknya sederhana, sampai rumah toko mewah berdinding kaca bening di bagian depan sehingga nampak jelas hasil akhir dari pengrajin ukiran yang siap dijual.

Mebel-mebel yang dipajang di dalam maupun di teras toko terdiri dari berbagai produk dan aneka jenis kayu, mulai dari perabotan rumah tangga hingga berbagai jenis kerajinan yang membuat takjub penglihatan mata yang memandang. “Panjangnya (Daerah Tahunan) Tujuh kilo, dari desa Rengging sampai Jepara,” kata Sulthon yang juga sebagai pengrajin yang masih memproduksi membel antik (repro) ini.

Menurutnya, pernyataan bahwa daerah Tahunan merupakan Showroom mebel terpanjang didunia ini keluar dari mulut wisatawan asing yang ketika itu datang ke Jepara. “Yang bilang orang asing. Malah kalau warga sini yang bilang, klaim sebagai showroom mebel terpanjang di dunia malah tidak sah,” ujar Sulthon.

Dari sana, wartawan JPNN diajak menuju Desa Senenan, tempat kumpulan pengrajin seni ukir Relief dengan karya seni dan tingkat kerumitan yang tinggi. Hanya dengan 15 menit dari daerah Tahunan dengan berkendara mobil, tibalah disebuah rumah yang cukup besar dan sederhana. Di rumah itu, kami telah ditunggu oleh seorang lelaki yang mengenakan kaos putih dipadu celana dasar hitam.

Setelah saling memperkenalkan diri, diketahui lelaki paruh baya tersebut bernama Sutrisno yang ternyata merupakan pengrajin Relief terkenal di daerah Senenan. “Sekarang lagi vakum (mengerjakan relief),” ujar lelaki yang telah belajar mengukir sejak usia sembilan tahun hingga sampai mahir me-relief ini merendahkan diri.

Dikatakannya, awalnya Seni ukir relief ini diperuntukan untuk hiasan dinding, tetapi sesuai perkembangan, kemudian relief ini juga bisa digunakan untuk segala macam furniture. “Semua unsur seni mulai dari seni rupa, ritme dan perspektif bergabung dalam relief. Pada awalnya, motif aslinya relief itu trisula,” ujarnya.

Motif relief itu sendiri lanjut Sutrisno terus berevolusi setiap tahunya. Pada tahun 1960-an, para pengrajin relief lebih dominan mengambil motif alam pedesaan, lalu 10 tahun berikutnya mulai muncul motif Ramayana dalam kisah Mahabarata dan terus berkembang lagi mulai tahun 1980 hingga sekarang sudah banyak relief bermotif tumbuhan dan hewan.

“Untuk bentuk motifnya itu sendiri ada yang diciptakan oleh kelompok pengrajin relief, tetapi juga bisa disesuaikan dengan permintaan pemesan,” jelasnya dengan menyebut harga yang dijual bervariasi tergantung dengan ukuran Mebel. “Mulau dari jutaan sampai puluhan juta,” tambahnya.

Untuk pengerjaan Relief hiasan dinding dengan motif tumbuhan dan hewan ini kata Sutrisno, dapat memakan waktu yang lama, bahkan mencapai satu tahun bila satu orang yang mengerjakanya. “Bila tiga orang yang kerjakan, dalam waktu empat sampai enam bulan bisa selesai,” tandasnya sambil menunjukan contoh hasil relief ukiran relief berukuran 1X2,5 M yang dipajang ditoko miliknya, tidak jauh dari rumahnya.

Sutrisno juga menyempatkan diri menunjukan perkebunan bibit jati Unggul Nusantara seperti yang dikatakan Koordinator CIFOR, Herry Purnomo dalam lima tahun sudah bisa dijadikan bahan baku untuk diproduksi menjadi mebel dan furniture yang tidak jauh dari rumahnya.

Di lahan berukuran 15 X 20 meter yang terbagi dalam beberapa petakan tersebut, pohon jati berukuran antara 50 cm – 1 meter terlihat tumbuh dengan subur. “Setiap satu minggu sekali disiram, untuk satu pohon disiram dengan menggunakan air sebanyak 1 ember,” ujar Sutrisno.

Perjalanan hari itu berakhir di Desa Mulyoharjo, sentra yang disahkan pemerintah kabupaten Jepara untuk menjadi tempat sekumpulan pengrajin yang memproduksi patung dan kerajinan lainya.

Berbeda dengan dua tempat sebelumnya, di desa ini lebih menonjolkan kerajinan patung dengan bentuk ukuran yang bermacam-macam, mulai dari jenis manusia hewan maupun tumbuh-tumbuhan yang dipamerkan di sebelah kanan dan kiri jalan.

Bahkan, wanita juga terlibat aktif dalam proses finishing sebuah mebel yang diproduksi. Saat itu terlihat dua orang ibu yang tengah mengamplas sebuah patung ikan Arwana dari sebuah toko mebel di Mulyoharjo.

Lalu, pandangan tertuju pada sebuah patung kombinasi antara Naga dan burung Rajawali berukuran lebar 2X3 meter dan tinggi 3X5 meter dari sebuah toko dikawasan tersebut. “Yang mahal itu kayu dan tenaganya, harganya Rp 60 juta,” kata pemilik toko, Legiman Arya menawarkan harga patungnya.

Lelaki berdarah Bali ini mengaku sudah bergabung komunitas kecil sentra patung Mulyoharjo tahun 1997 atau sejak berdirinya sentra patung yang kini dihuni oleh 180 orang pengrajin seni ukir patung. “Penjualan 60 persen buat ekspor, karena negeri kita sendiri kurang konsumtif. Saya juga menyewakan patung buat pameran,” tuturnya.

Bahkan, Legiman mengaku pernah mendapat tawaran dari seorang warga Negara Malaysia untuk membuat usaha seni ukir patung di Malaysia dengan modal orang tersebut, tetapi hal itu ditolaknya. “Tapi kalau ada orang menawarkan investasi belum ada,” ujarnya.

Sementara itu, untuk bahan baku kayu pembuatan patung, Legiman mengaku sebagian besar didapatkanya dari luar kota seperti daerah Jawa dan Sumatera karena Ia mengakui saat ini kabupaten Jepara kesulitan bahan baku tersebut. ”Bahan baku 99 persen berasal dari luar kota,” katanya menutup obrolan (*)
*sumber : jpnn.combanner-mebel-ukir-jepara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *