Platar

Sejarah Desa Platar KecamatanTahunan Kabupaten Jepara
Pada ahir pemerintahan Raden Fatah di kerajaan Demak Bintoro terjadi kudeta antara keluarga raja diraja. Pangeran Suto wijoyo yang dikenal masyarakat dengan sebutan Raden Mataram tidak ikut campur dalam hal tersebut .

Kemudian Beliau meninggalkan keraton dan berkelana untuk menghabiskan masa tuanya dengan bersemedi, dan kepergiannya itu di dampingi sahabatnya sepasang suami istri yang bernama Kyai PAKU NOLO dan Nyai NOLO PAKU.

Maka berangkatlah ketiga musyafir tersebut dan sampailah di telatah kapupaten Jeporo. Di kabupaten Jeporo lalu berjalan kearah selatan dan menetap disebelah barat Masjid Mantingan . Pangeran Joyo Jawoto membuka perkampungan disitu dan diberi nama dukuh TARAMAN, yang sekarang ikut wilayah Desa Mantingan. Beliau menetap sampai akhir hayatnya dan dimakamkan dipusat perdukuhan tersebut.

Sedangkan Kyai Paku Nolo dan Nyai Nolo Paku mendapat tugas dari Raden Mataram untuk membuka plataran, sesuai pesan sahabat Kyai Paku Nolo dan Nyai Nolo Paku juga dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Kaki onggo dan Nani Onggo. Beliau juga menetap diPlataran dukuh tersebut sampai wafat dan dimakamkan di Pepunden ” WUNGU” namanya.

Berselang beberapa tahun lamanya terjadi suatu peristiwa penguasa teluk yang bernama BODRO LANGU yang pada masa itu Bodro langu terpikat akan kencantikan dan keluwesan paras dan tubuh Dewi Ayu Roro Kemuning. Nyai Dewi tersebut sudah mempunyai suami yang paling disayanginya dan dicintainya yaitu Ki Ageng Syeh Jondang. Bodro langu yang merasa cintanya kandas tak terbalas,maka timbulah niat jahatnya untuk mencuri Nyai Dewi Ayu Roro Kemuning dari sisi Ki Ageng Syeh Jondang.

Pada suatu hari niat Bodro langu itu benar-benar dilaksanakan, Nyai Dewi yang sedang memasak dan sedang menyelesaikan dan sedan menyelesaikan bahan makanan dan membereskan semua kebutuhan dapur, tiba-tiba Nyai Roro Ayu Kemuning disekap dari belakang lalu dibawa kabur. kejadian tersebut tidak diketahuinya sama sekali oleh sang suami yaitu Ki Ageng Syeh Jondang sebab Syeh Jondang masih asyik mencangkul di sawah, ketika Syeh Jondang pulang kerumah tiba-tiba banyak tetangga yang berkumpul dirumahnya dan menceritakan semua kejadian tersebut kepadanya. Beliau marah besar sebab merasa hak dan kehormatannya diinjak-injak orang lain,pada saat itu pula Ki Ageng bpergi berkelana mencari istrinya.

Ki Ageng berpkelana dengan menunjukan kepandaianya bermain kentrung. Beliau berkelana kesetiap pelosok pelosok Desa, dan pada akhirnya beliau sampai ditelatah wilayah Teluk. Kemudian beliau beraksi dengan kedua terbangnya yang diiringi dengan suara yang merdu. Maka tidak heranlah penduduk setempat berduyun-duyun melihat dan mendengarkan gendhing jawa yang sangat populer dimasa itu, lamat-lamat terdengar oleh Nyai Dewi bahwa yang beraksi bermain kentrung itu adalah suaminya sendiri yaitu Syeh Jondang.

Maka Nyai Dewi Ayu Kemuning meronta-ronta mau melepaskan diri , tetapi diketahui oleh Bodro langu. Tak lama kemuadian Nyai Dewi membuat perjanjian dengan Bodro langu, beliau mau dipersunting jadi istrinya tetapi dengan syarat yaitu bodro langu harus mencarikan bukur yang bisa menari dan berbicara sepeti manusia dan syarat itu diterima oleh Bodro langu.

Tak lama kemudian Bodro langu melepaskan pakaian kebesarannya dan memakai pakaian nelayan yang biasa di pakai mencari bukur kelaut. Disaat itulah Dewi Roro Ayu Kemuning lari menyusul suaminya Syeh Jondang yang sedang dikerumuni orang banyak , dan menceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya kepada suaminya.

KiAgeng Syeh Jondang lalu mengajak istrinya dan para penggemarnya ketepi laut. Sebelum permainan dimulai Syeh Jondang menakut-nakuti kepada penggemarnya bahwa nanti ada orang yang berjalan pelan-pelan ditepi laut dengan membungkuk-bungkuk membawa caping kropak ditepi laut dan itu harus diserang bersama-sama sebab itu setan laut yang ikut mendengarkan kentrung juga.

Permainan itu segera dimulai , disaat itru Nyai Dewi ikut gembira menyanyi dan menari semu penggemar berjoget bersama-sama dan berjingkrak-jingkrak bagai orang yang kesurupan, Bodro langu mendengarkan semua itu lalu bodro langu mendekat dan ikut menyaksikan tontonan menarik yang juga disukainya bodro langu menunda pekerjaanya mencari bukur yang bisa menari dan berbicara.

Ketika Bodro langu menuju ketepi laut, tak lama kemudian Syeh Jondang menyiapkan semua penggemarnya dan terbunuhlah Bodro langu di kroyok dan dicincangnya sampai meninggal.

Disaat itulah Syeh Jondang bergegas pergi bersama istrinya meninggalkan penggemar-penggemarnya. Bodro langu Yang mati terkapar berlumuran darah itu diseret oleh penduduk beramai-ramai tetapi ketika terbuka capingnya ada sebagian orang yang mengenalinya bahwa itu adalah sesepuhnhya penguasa yang dihormati dan disembah sembah. Mereka tidak sadar telah membunuh pemimpinnya sendiri secara ngawur, disaat itulah dukuh tersebut dinamakan TELUK NGAWUR/ TELUK AWUR.

Sepasang suami istri itu terus melarikan diri ketimur dan sampailah di plataran, karena keadaanya dirasa sudah aman beliau sementara menetap di dukuh plataran tersebut.

Ketika sepasang seniman meninggalkan tempat tersebut beliau merubah nama plataran menjadi perdukuhan PLATAR dan sepasang suami istri itu lalu menacapkan tongkatnya di perdukuihan platar sebagai tanda bersyukur dan berbahagia.Tongkat itu hidup subur tumbuh menjadi pohon yang besar yang dengan masyarakat platar dinamakan pohon SOKO, artinya gembira dan kegembiraan akan tetapi pohon tersebut disalah gunakan oleh sebagian masyarakat dianggapnya mempunyai kekuatan ghoib yang menurut orang islam merupakan kemusrikan.Kemudian pohon tersebut pada bulan januari 1986 ditebang dengan tujuan untuk menghilangkan sifat-sifat musrik terhadap masyarakat setempat.